“Senja....
Angin sakit menyambut kedatangan Raka saat ia turun dari motor dan menatap luasnya hamparan pasir putih Pantai Drini. Gunung Kidul, dengan garis pantainya yang berliku dan eksotis, selalu punya cara membuat pun jatuh cinta. Tapi kali ini, ia datang bukan sekadar untuk berlibur—melainkan
Langkahnya berhenti tepat di bibir pantai, ketika ombak lembut menyapu kakinya. Saat perbincangan, beberapa nelayan baru saja kembali dari laut, menurunkan hasil tangkapan mereka. Suasana sederhana itu membuat hati Raka terasa hangat—seolah pulang ke tempat yang tak pernah bermanfaat
Ibu itu tertawa kecil. “Pantainya tidak berubah. Tapi kadang-kadang, orangnya berubah.”
Ucapan itu menempel di kepala Raka seperti debur ombak yang tak pernah berhenti. Ia duduk di bawah payung bambu, menikmati kelapa muda yang disajikan si ibu. Dari perkenalannya, Pantai Drini tampak cantik dengan pulau-pulau kecil di tengah laut yang menjadi melingkar
Saat matahari mulai condong ke barat, Raka melanjutkan perjalanan ke Pantai Ngrawe—yang terkenal dengan tamannya yang rapi dan suasananya mirip resor luar negeri. Rumput hijau, bangku-bangku estetik, dan angin laut yang membawa aroma asin membuat suasana ter
Tak jauh dari situ, Pantai Kukup bersinggungan dengan jembatan ikonik yang menghubungkan tebing ke pulau kecil.
